Menuai Cuan dan Memberdayakan Petani dari Hewan Kurban

oleh -38 views
Supardiyono dan domba-domba
Supardiyono dan domba-domba yang dijualnya jelang Iduladha. (Panennews.com/Hernawan)

Panennews.com – Menjelang hari raya Iduladha yang telah ditetapkan pemerintah pada 29 Juni, peternak hewan kurban mulai menuai cuan atau keuntungan. Tak cuma itu, petani dan peternak lokal saling berjejaring untuk bersaing dengan penjual hewan kurban dadakan.

Hal ini seperti dialami Supardiyono (42), peternak kambing di Dusun Donotirto, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah beternak kambing selama lebih dari 10 tahun. Saat disambangi Panennews.com di rumah sekaligus peternakan sederhananya, Minggu (18/6), terlihat puluhan domba dan kambing yang siap dilepas ke pembeli.

Hewan-hewan kurban tersebut tahun ini dibanderol Rp2 juta – Rp 4,5 juta tergantung ukuran dan jenisnya. “Kebanyakan di sini domba gembel, tapi ada juga kalau mau cari kambing lokal. Harga Rp3,5 juta sudah bagus-bagus,” ujar Diyon, sapaan bapak tiga anak ini, berpromosi.

Menurut dia, dibanding kambing, saat ini domba lebih mendominasi hewan kurban di Jogja. Domba lebih banyak didatangkan dari luar wilayah DIY, seperti dari Garut Jawa Barat. Padahal sebenarnya, kata dia, kambing lokal tidak kalah bagus. “Lebih banyak dagingnya soalnya lulang (kulit) gembel itu banyak,” kata dia.

Baca Juga :   DPR Dorong Pemerintah Pastikan Hewan Kurban Dalam Kondisi Sehat

Tren tersebut antara lain lantaran banyaknya pedagang hewan kurban dadakan jelang Iduladha. “Penjual kambing di pinggir jalan itu nuthuk harga,” katanya. Nuthuk artinya memukul dalam bahasa Jawa, istilah untuk menaikkan harga secara semena-mena.

Hal ini tak berlaku pada Diyon yang beternak dan berjualan kambing sepanjang tahun. Di luar Iduladha, Diyon juga melayani pemesanan kambing untuk ibadah aqiqah, yakni syukuran dengan penyembelihan kambing untuk umat Islam.

Jika pada hari-hari biasa ia memelihara sekitar 10 ekor kambing, saat mendekati hari kurban, jumlah ternaknya bisa membengkak. “Sampai ratusan. Tahun lalu sampai 130 ekor,” ujarnya.

Jumlah tersebut bukan hanya dari kandang sendiri. Ia juga melakukan jemput bola dengan membeli kambing dari petani sekitar. Laba yang Diyon ambil Rp100 ribu-Rp150 ribu tak masalah, kata dia, asal petani lokal berdaya dan kecipratan rezeki hari raya.

Baca Juga :   Dorong Susu Sapi, Mentan SYL Launching Integrasi Sapi – Sawit

Dari kampungnya sendiri hingga desa-desa tetangga di Bantul, Diyon bisa sampai berburu kambing sampai Turi, Sleman, di kawasan kaki Gunung Merapi. “Paling lama sebulan kambing di sini sudah laku. Atau pengen kambing seperti apa juga bisa saya carikan ke teman-teman petani,” katanya.

Diyon sempat juga beternak sapi. Namun ia kini banting setir hanya beternak kambing dan domba. Selain butuh modal besar, sapi juga dianggap mengganggu sekitar. “Polusi kotorannya itu, satu minggu saja baunya wusss. Apalagi di sini ada TPQ,” tutur Diyon yang menyisihkan sebagian hasil penjualan dari tiap kambing untuk tempat pendidikan Quran di kampungnya itu.

Apalagi belakangan sejumlah wabah penyakit menyerang sapi. Setelah penyakit kuku dan mulut (PMK), sapi diserang virus Lumpy Skin Disease (LSD). “Sejak banyak sapi kena lato-lato, kambing makin digemari,” kata Diyon menyebut istilah populer penyakit LSD itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.