Green House Kampung Flori, Jadikan Produk Hortikultura Indonesia Berkualitas

oleh -18 views
WhatsApp-Image-2023-11-18-at-10.17.24-PM-1536x1142
Foto : Dok. Kementan

Panennews.com – Pengembangan produk hortikultura berkualitas dan berdaya saing menjadi fokus Kementerian Pertanian Indonesia dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Dalam upaya tersebut, tanaman hias atau florikultura sebagai komoditas hortikultura unggulan mendapatkan dukungan melalui inovasi teknologi produksi rumah tanam Green House (GH) dan rumah naungan Shading House (SH).

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, memperkenalkan konsep Kampung Flori yang bertujuan menjadikan kawasan florikultura terkonsentrasi dan berskala ekonomi.

“Kita fokus pada kampung flori yang sudah ada dan mengembangkan potensi kampung flori yang baru dengan dukungan inovasi teknologi GH dan SH untuk menghasilkan produk yang berkualitas,” ujar Prihasto, di Jakarta Sabtu (25/11/2023).

Sarana budidaya Green House dan Shading House florikultura dalam satu kampung flori setara dengan bangunan seluas 200 m², sementara tanaman florikultura tanpa teknologi tersebut memerlukan luas 5000 m².

Baca Juga :   Mengenal Tanaman Kratom, Dengan Daunnya Yang Banyak Manfaat

GH dan SH berfungsi sebagai bangunan peneduh, menciptakan kondisi lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman seperti krisan, anggrek, dan mawar sangat membutuhkan GH, sementara SH cocok untuk tanaman hias daun.

Sejak tahun 2021, Direktorat Jenderal Hortikultura telah membangun 181 Kampung Flori di wilayah sentra produksi dan pengembangan tanaman hias. Fasilitasi Bantuan Sarana Produksi Florikultura telah mengalokasikan 80 unit Green House dan 28 unit Shading House.

Dalam upaya memperluas penyebaran informasi teknologi budidaya, produksi, dan pasar, serta menyosialisasikan Kampung Flori kepada masyarakat luas, diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang penyusunan katalog GH dan SH.

Liferdi menyampaikan bahwa peran GH dan SH sangat penting untuk pemenuhan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produksi.

Baca Juga :   Waspadai, Ini Jenis Penyakit Yang Menyerang Tanaman Bawang Putih

“Katalog ini menggambarkan keberhasilan pembangunan GH dan SH yang merupakan fasilitasi bantuan APBN Ditjen Hortikultura TA 2021-2023 pada lokasi pengembangan kampung flori serta peluang terbentuknya jejaring kerja sama antara petani florikultura dengan pelaku usaha florikultura,” terang Liferdi.

Kabupaten Cianjur, sebagai sentra krisan, menjadi salah satu contoh keberhasilan dengan nilai ekonomi tinggi dan potensial untuk dikembangkan.

Saat ini, terdapat 705 petani krisan dengan luas areal 1.195.423 m² dan jumlah GH mencapai 2.437 unit, yang merupakan hasil swadaya masyarakat.

“Pengembangan Kampung Flori dengan teknologi GH dan SH diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi, kualitas, dan daya saing florikultura Indonesia di pasar global” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.