Demi Hasilkan Ternak Unggulan, Pakar UGM Petakan Model Breeding Terbaik di Berbagai Daerah

oleh -47 views
Dyah Maharani
Guru Besar Pemuliaan Ternak UGM Dyah Maharani. (Dok UGM)

Panennews.com – Sektor peternakan memainkan peran penting dalam kontribusi ekonomi Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan dan pemenuhan protein asal ternak.

Untuk itu, diperlukan usaha peternakan yang berkelanjutan dan pemetaan program breeding yang sesuai untuk perbibitan ternak lokal di Indonesia.

Hal itu menjadi benang merah pemikiran Profesor Dyah Maharani yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pemuliaan Ternak pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (15/8/2023) lalu. Ia menyampaikan pidato berjudul “Model Perbibitan dan Program Breeding untuk Ternak Lokal di Indonesia”.

“Perbibitan merupakan pilar penting dalam usaha ternak. Untuk mendapat bibit yang berkualitas secara berkelanjutan diperlukan suatu program breeding yang mampu menjamin mutu genetik bibit yang akan dihasilkan,” tutur dia dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (18/8/2023).

Salah satu model perbibitan adalah Kawasan Sentra Perbibitan Ternak (KSPT) Berbasis Korporasi. Model pengembangan agribisnis perbibitan ternak ini berfokus pada pengelolaan terpadu dan terintegrasi dari lahan dan sumber daya alam untuk tujuan pengembangan ternak lokal secara profesional.

Baca Juga :   Lebih Efisien, 3 Jenis Kandang Yang Tepat Untuk Ternak Bebek Pedaging

Model KSPT ini dapat dibuat atau diterapkan oleh asosiasi peternak atau perusahaan swasta di kawasan sumber bibit yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Model ini diterapkan di kawasan dengan ekosistem berbasis agribisnis yang dekat dengan pasar atau konsumen.

“Model KSPT lebih cocok diterapkan di wilayah Jawa dan wilayah sumber bibit lain yang memiliki ekosistem agribisnis berbasis pada pasar atau konsumen,” ujarnya.

Selain itu, menurut Dyah, ada model perbibitan berbasis Community-Breeding Program (CBP), yang dirancang untuk melakukan kegiatan pemuliaan yang terorganisir di desa atau komunitas peternak.

Dalam model ini program pemuliaan direncanakan, didesain, dan dilaksanakan oleh peternak kecil secara individu atau bekerja sama dengan pemangku kepentingan teknis untuk meningkatkan kualitas genetik ternak mereka.

“Model perbibitan CBP cocok untuk ternak lokal di wilayah sumber bibit di Indonesia bagian timur atau wilayah yang terpencil dari akses pasar dan memiliki skala peternakan rakyat,” katanya.

Baca Juga :   Khawatir Berdampak ke Petani dan Budidaya Tanaman Tradisi, Sosiolog UGM Kritik Perayaan Hari Tanpa Tembakau

Dyah menyebut wilayah sumber bibit yang berdekatan dengan perusahaan kelapa sawit, seperti di Sumatera dan Kalimantan, cocok dengan model perbibitan berpola integrasi.

Menurut Dyah, program breeding yang direkomendasikan untuk menghasilkan bibit unggul murni adalah closed nucleus breeding, sedangkan untuk bibit unggul silangan, open nucleus breeding lebih sesuai.

Untuk program persilangan, pemerintah perlu mengatur komposisi bangsa ternak yang akan disilangkan agar tujuan perbibitan di Indonesia jelas dan terarah.

Metode seleksi gabungan antara pendekatan kuantitatif konvensional dan molekuler direkomendasikan di model KSPT dan CBP, bergantung pada fasilitas, dana dan sumber daya manusia yang tersedia.

“Model perbibitan dan program breeding yang sudah dipetakan kesesuaiannya sebaiknya dibuat oleh pemerintah pusat dan diimplementasikan di seluruh wilayah sumber bibit secara terarah dan berkelanjutan,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.