GAPKI Catat Tren Penurunan Ekspor Komoditas Minyak Sawit Indonesia

oleh -9 views
WhatsApp Image 2024-02-28 at 12.04.27
Foto : Dok. Istimewa

Panennews.com – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat bahwa ekspor komoditas kelapa sawit mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Hal itu, disebabkan oleh meningkatnya konsumsi dalam negeri. Peningkatan konsumsi ini terjadi karena penggunaan kelapa sawit dalam berbagai sektor seperti pangan, biodiesel, dan oleokimia.

Menurut data GAPKI, ekspor produk kelapa sawit seperti minyak mentah sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir.

Volume ekspor pada 2019 mencapai 37,02 juta ton, turun menjadi 33,56 juta ton pada 2020, 33,12 juta ton pada 2021, 33,15 juta ton pada 2022, dan 32,21 juta ton pada 2023.

Secara persentase, ekspor CPO dan PKO pada tahun 2023 turun 2,38 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, konsumsi dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan konsumsi produk kelapa sawit mencapai 18,42 juta ton pada 2021, 21,14 juta ton pada 2022, dan meningkat menjadi 23,13 juta ton pada 2023.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa volume ekspor mengalami penurunan terutama karena meningkatnya permintaan domestik dan adanya pelemahan ekonomi global yang mempengaruhi. Hal ini diungkapkan dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/02/2024).

Baca Juga :   Perkuat Perkebunan Sawit, Kementan Gandeng Multipihak

Eddy menjelaskan bahwa konsumsi domestik saat ini mencapai sekitar 40 hingga 50 persen dari produksi minyak kelapa sawit, dan tren konsumsi tersebut terus meningkat, mendekati angka 50 persen.

“Konsumsi dalam negeri menunjukkan kenaikan dari 21,24 juta ton pada tahun 2022 menjadi 23,13 juta ton atau kenaikan sekitar 8,90%” jelasnya.

Sementara itu, implementasi kebijakan Biodiesel (B35) yang secara efektif dilakukan pada bulan Juli 2022 telah meningkatkan konsumsi minyak sawit sebesar 17,68% yakni dari 9,048 juta ton pada tahun 2022 menjadi 10,65 juta ton di tahun 2023.

Selain itu, Eddy juga menilai bahwa prospek Industri Sawit di tahun 2024 Industri kelapa sawit Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan.

“Dari sisi ekonomi global, ketidakpastian masih membayangi pertumbuhan ekonomi global khususnya negara- negara maju seperti USA masih dilanda inflasi yang di atas target”. Jelasnya.

Baca Juga :   Rehabilitasi Saluran Irigasi, Cara Pemkot Semarang Bantu Petani Kekeringan

Selain itu, lanjut Eddy, China sebagai salah satu konsumen terbesar minyak sawit juga masih bergulat dengan pelemahan ekonomi pasca Covid-19, begitu juga dengan Eropa dimana kondisi ekonominya melemah dengan defisit fiskal yang meningkat diiringi inflasi yang masih tinggi.

Lebih lanjut, ada juga berbagai kampanye negatif yang terjadi di sosial media maupun datang dari luar negeri khususnya diskriminasi sawit melalui EU Deforestasi.

“Kampanye negatif masih terus berlanjut, sawit merambah hutan, luar negeri EU juga terus berubah. Ini kita terus hadapai kita bersama Pemerintah, kita tidak sendiri untuk menghadapi kampanye-kampanye ini,” kata Eddy.

Eddy melanjutkan, tantangan lainnya yaitu tidak jelasnya kepastian hukum seperti banyaknya peraturan dan instansi yang terlibat dalam industri kelapa sawit.

Setidaknya, dalam catatan GAPKI lebih dari 31 Kementerian dan Lembaga yang mengatur dan terkait dengan industri kelapa sawit.

Hal ini menurut Eddy menyebabkan tumpang tindih peraturan. Selain itu,adanya kebijakan di dalam negeri yang mudah berubah-ubah juga menjadi tantangan tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.