Rokhmin Dahuri Paparkan Alasan SDGs Belum Buahka Hasil Sesuai Harapan

oleh -77 views
Panennews data

Panennews.com- Universitas Hasanuddin Makassar melalui SDGs Center Mengadakan kuliah umum soal evaluasi SDGs di Indonesia pada Kamis (5/8). Hadir sebagai pembicara Profesor Rokhmin Dahuri yang juga sebagai Penasehat Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Rokhmin Dahuri dalam paparannya di kuliah umum membawakan makalah  berjudul Strategi Penggunaan Sains, Teknologi dan Inovasi Dalam Percepatan Pencapaian Target SDGs. Seperti yang diketahui Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan paradigma pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini, tanpa merusak kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Profesor Rokhmin menyampaikan dari data  WCED, 1987 upaya mengatasi kerusakan lingkungan dan Mensejahterahkan dunia sampai saat ini belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Prof Rokhmin menyampaikan hampir semua kebijakan dan program penanggulangan kerusakan lingkungan hanya menyentuh fenomenanya, bukan akar masalah (root causes)-nya.

“Akar masalah pembangunan dan lingkungan hidup kita saat ini antara lain, tekonolgi (aspek teknis), moralitas khususnya orang-orang atau bangsa-bangsayang punya power (kekuasaan) itu mayoritas sangat hedonis, greedy, dan hegemonis”. Kata Prof.Rokhmin.

Selain itu, Prof. Rokhmin juga menyampaikan upaya untuk mencegah pemanasan global, negara-negara industri maju memberikan dana hibah ’ala kadarnya’ kepada negara-negara berkembang (miskin). Dengan syarat, negaranegara berkembang mengurangi emisi CO2 secara signifikan. Tetapi, negara-negara industri maju sendiri tidak mau mengurangi emisi CO2.

Baca Juga :   Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, Minta Pemerintah Perhatikan Ketahanan Pangan IKN

“Saat ini negara-negara industri maju (OECD) dengan total penduduk hanya 18% penduduk dunia mengkonsumsi sekitar 70%  total konsumsi energi dunia, dan 87% total energi yang mereka gunakan berupa energi fosil. Rata-rata laju emisi CO2 negara-negara industri maju sekitar 10 ton perkapita, dan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 20 ton perkapita. Sedangkan, negara-negara berkembang rata-rata hanya 1 ton perkapita, dan Indonesia baru 0,5 ton perkapita,” papar  Rokhmin mengutip  IPCC (2019).

Prof. Rokhmin menegaskan, ketidakadilan iklim inilah yang merupakan biang kerok dari pemanasan global. Selain itu, teknologi untuk mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global (global warming), tsunami, kebakaran hutan, gempa bumi, dan bencana alam lainnya pun masih terbatas, khususnya bagi negara-negara berkembang (miskin),” tegas Rokhmin.

Sementara itu, untuk proyeksi kebutuhan sains, teknologi dan inovasi untuk pencapaian SDGs.  Pertama, pemeliharaan dan peningkatan daya dukung lingkungan suatu wilayah pembangunan atau negara antara lain.

Baca Juga :   Menteri Trenggono: Probolinggo disebut Cocok Jadi Sentra Perikanan di Jawa Timur

“Pertama, peningkatan produktivitas ekosistem alam (seperti hutan, danau, sungai, pesisir, dan laut), peningkatan kapasitas asimilasi ekosistem alam seperti river training, penanaman mangrove, penyuburan perairan untuk tingkatkan populasi dan densitas fitoplankton (microalgae) dan lain-lain”. Kata Prof. Rokhmin.

Langkah Kedua adalah dengan restorasi ekosistem alam yang telah rusak: (1) replanting, (2) coral transplantation, (3) restocking, (4) stock enhancement, (4), bioremediasi, dan lain-lain.

Ketiga,  pemanfaatan dan pengelolaan SDA (hutan, lahan pertanian, perikanan, ekosistem perairan, dan lainnya) secara produktif, berdaya saing, menyejahterakan, dan berkelanjutan (sustainable).

Keempat, pengurangan dampak negative  (stressors) dari berbagai macam kegiatan manusia dan pembangunan terhadap ekosistem alam: 3 R (Reduce, Reuse, dan Recycle); zero-waste processing (manufacturing) industries; design and construction with nature; dan lain-lain.

Kelima, pengembangn energi terbarukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya CO2,  ke atmosfir.

Keenam, pengembangan teknologi dan proses ekonomi (produksi, transportasi, dan konsumsi) yan mampu mengurangi emisi GRK (khususnya CO2) ke atmosfir.

Ketujuh, valuasi ekonomi tentang nilai ekonomi yang sesungguhnya (true economic value) dari ekosistem  alam (National Resources Accounting).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.