Intervensi Biosekuriti, Lawan Penyakit ASF Ternak Babi Di Sulut

oleh -10 views
ilustrasi peternakan babi
Ilsutrasi Peternakan Babi - Foto : Pexels

Panennews.com – Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO) dan didukung oleh Kementerian Pertanian, Pangan dan Pedesaan (MAFRA) Republik Korea.

Dalam hal ini, meluncurkan program Intervensi Biosekuriti Komunitas African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika (Community ASF Biosecurity Intervention/CABI) di Indonesia, dengan area percontohan yang dimulai di provinsi Sulawesi Utara.

Pemerintah Indonesia telah memilih tiga lokasi percontohan, yaitu Desa Pinabetengan, Desa Paslaten Satu, dan Desa Tiwoho di Sulawesi Utara.

“ASF merupakan penyakit hewan yang sangat menular pada babi domestik dan babi hutan, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi dan produksi yang signifikan. Virus ASF sangat resistan dan dapat bertahan lama dalam berbagai kondisi,” kata Nasrullah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, di Jakarta, Rabu (20/03/20240.

Wabah ASF pertama pada babi domestik di Indonesia dilaporkan pada tahun 2019. Wabah ini mengancam industri peternakan babi, dan pemerintah Indonesia secara resmi menyatakannya melalui Keputusan Menteri Pertanian.

Baca Juga :   Antisipasi Kepunahan, BKSDA NTB Rencanakan Bangun Pengembangan Rusa Timor

Meskipun saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit ASF pada babi, Nasrullah menekankan bahwa penyebaran ASF dapat dicegah.

“Upaya pencegahan yang ketat dan kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit hewan dan melindungi industri peternakan babi dari kerugian besar, terutama dengan menerapkan langkah-langkah biosekuriti,” jelasnya.

Kolaborasi pencegahan ASF ini dilakukan melalui program CABI yang bertujuan membantu peternak babi skala kecil melakukan mitigasi dan pemulihan ASF dengan memperkuat langkah-langkah biosekuriti.

Program praktis ini yang didukung oleh MAFRA ROK, telah berhasil diterapkan di beberapa negara di kawasan Asia-Pasifik dan diperluas ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal.

Nuryani Zainuddin, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa ASF membawa ancaman signifikan bagi peternak babi berskala kecil, khususnya terhadap mata pencaharian mereka.

“Program pencegahan ini diharapkan dapat memperbaiki situasi kesehatan peternak di Sulawesi Utara secara keseluruhan dan membantu target Sulawesi Utara bebas ASF,” ujar Nuryani.

Baca Juga :   Atasi Penyakit Sisik Nanas Yang Menyerang Ikan Cupang Dengan Cara Ini

Gubernur Sulawesi Utara melalui Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Utara, Wilhelmina J. N. Pangemanan, menyebutkan bahwa pemerintah di tingkat nasional maupun daerah, serta FAO telah berkolaborasi untuk mencegah ASF dengan menerapkan beberapa langkah.

“Kami terus meningkatkan pencegahan lalu lintas media pembawa virus, mengisolasi babi yang terkena ASF, menerapkan biosekuriti dan manajemen peternakan yang baik, serta melakukan pemantauan intensif di wilayah berisiko tinggi,” jelas Wilhelmina.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Minahasa, Jemmy Stani Kumendong, mengapresiasi Kementerian Pertanian dan FAO yang telah melakukan tindakan pencegahan ASF ini.

“Dukungan yang diberikan sangat bermanfaat karena dengan menerapkan pencegahan biosekuriti akan membantu peternak menjaga kesehatan babi dan menekan kerugian finansial,” tuturnya.

Selain itu, Ia juga berharap semakin banyak peternak yang sadar akan pentingnya biosekuriti dan mulai menerapkannya di peternakan masing-masing untuk mencegah ASF dan penyakit lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.