Dampak Pembatasan Komoditi Peternakan Masuk NTB, Telur Ayam dan Daging Sapi Alami Kenaikan Harga

oleh -1 views
ilustrasi telur
Ilsutrasi Telur Ayam - Foto : Usplash

Panennews.com – Harga telur di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan dalam beberapa hari terahir. Begitu pula dengan harga daging sapi, mengalami kenaikan bersamaan dengan masuknya bulan suci Ramadhan. Kenaikan harga biasanya terjadi karena tingginya permintaan daging sapi dan telur ayam.

Kenaikan harga pada komoditi tersebut dinilai sangat menguntungkan peternak apalagi saat bulan Ramadhan ini merupakan momentum kebangkitan ekonomi bagi para peternak.

Data lapangan menyebutkan, harga telur saat ini sudah mencapai Rp60.000/trai di tingkat peternak. Sementara harga daging sapi di pasaran mencapai Rp130.000/Kg, bahkan lebih.

“Kenaikan harga ini membuat peternak sumringah. Ini kesempatan bagi peternak. Kasih peternak bahagia dulu, karena memang harga telur dan daging di Pulau Jawa itu lagi naik dia. Makanya di sini ikut naik,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Muhammad Riadi Kamis, (14/3/2024) menanggapi kenaikan harga komoditi peternakan ini.

Baca Juga :   Dampak El Nino, Pemerintah Gencarkan Stabilitas Harga Dan Bantuan Pangan

Muhammad Riadi mengaku bersyukur kenaikan ini juga dampak dari tidak ada penyelundupan atau pemasukan telur dari luar NTB tanpa izin belakangan ini juga berkurang. Sehingga suplainya ke pasar berkurang dan mempengaruhi langsung harga telur saat ini.

Dikatakan, pada saatnya nanti terjadi penurunan harga daging dan telur di Jawa-Bali maka harganya di NTB dipastikan akan mengikuti.

“Namun kenaikan harganya masih dalam batas toleransi. Tidak signifikan. Kalau harga bagus, peternak bisa tetap eksis,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk daging sapi, Pemerintah NTB membatasi masuknya daging dari luar, terutama daging beku. Karena ketersedian di dalam daerah masih mencukupi. Jika masuknya daging beku ini tak dikendalikan, dikhawatirkan akan berdampak kepada aktivitas pemotongan hewan pedaging yang juga akan berkurang.

Baca Juga :   Indonesia Siap Tebar Luaskan Aroma Kopi Specialty Di Eropa

“Saya tidak mau itu terjadi, maka kita batasi masuknya daging beku ke daerah ini. Umpamanya dia minta 200 ton atau 2.000 ton, tidak kita kasi semuanya, tapi kasih dia setengahnya,” jelasnya.

Masuknya daging beku ini, tambah Riadi, tentu atas rekomendasi kabupaten/kota dan provinsi, dan diteruskan ke pemerintah provinsi untuk dipertimbangkan, layak diberikan masuk atau tidaknya daging beku tersebut. Tentu atas pertimbangan banyak hal.

“Sekarang ini daging sapi yang ada di pasar merupakan sapi potong segar dari lokal,” jelas Riadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.