NTB Tetapkan Kuota Pengiriman Ternak 54.900 Ekor

oleh -9 views
Hewan Sapi
Ilustrasi Hewan Sapi - Foto : Panen News/Amar

Panennews.com – Pemprov NTB menetapkan kuota pengiriman ternak, khususnya sapi ke luar daerah sebanyak 54.900 ekor pada tahun 2024 ini  naik dari kuota pengiriman tahun sebelumnya sebanyak 44.000 ekor.

Penetapan kuota lalu lintas ini sudah ditandatangani Penjabat (Pj) Gubernur NTB, Lalu Gita Ariadi

Pemprov NTB mengalokasikan kuota sebanyak 1.600 ekor dari populasi sapi di Pulau Lombok, dan sisanya adalah sapi-sapi dari Pulau Sumbawa.

Selain kuota pengiriman sapi, Pemprov NTB juga menetapkan kuota pengiriman kerbau ke luar daerah. Jumlah yang ditetapkan sebanyak 5.540 ekor. Sementara untuk sapi bibit, NTB juga menetapkan kuotanya sebanyak 812 ekor bibit sapi Jantan, dan 7.262 ekor bibit sapi betina.

Selain menetapkan kuota pengiriman sapi dan kerbau, NTB juga menetapkan kuota ternak yang boleh dimasukkan ke daerah ini. Untuk sapi, kuotanya sebanyak 26.000 ekor, dan untuk sapi eksotik jumlah yang boleh dimasukkan sebanyak 60.000 ekor.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Muhammad Riadi, pada Senin, (29/1/2024) menyampaikan pentingnya daerah mengatur kuota lalu lintas ternak. Saat ini total populasi sapi di Provinsi NTB sebanyak 1,2 juta ekor.

Baca Juga :   Ketahui Penyebab Hingga Ciri-Ciri Ayam Kalkun Yang Terkena Stres

Setelah dilakukan perhitungan dari berbagai aspek, ditetapkanlah berapa jumlah ternak yang boleh dibawa ke luar, dan boleh dimasukkan.

Riadi mengatakan, perhitungan lalu lintas ternak ini tentu mempertimbangkan banyak aspek, terutama aspek kebutuhan dalam daerah dan jumlah ideal populasi yang harus dijaga.

Menurutnya, pengiriman ternak ke luar daerah ini dilakukan salah satunya untuk menjaga harga sapi di dalam daerah tetap stabil.

“Kita melindungi peternak juga. Kalau tidak dikeluarkan dan hanya mengandalkan pasar dalam daerah, tidak bagus juga. Petani kita beri kesempatan untuk mengejar pasar yang lebih bagus supaya peternak kita tetap bersemangat beternak,” ujarnya.

Ditambahkan Riadi, untuk kebutuhan daging di dalam daerah, pasokan dari luar daerah yang masuk juga tidak kecil. Terutama daging beku. Sementara harga daging beku ini cukup rendah dibandingkan harga daging lokal.

Baca Juga :   Tujuh Ternak Warga Desa Tempur Mati Diterkam Macan

“Jangan sampai karena harga daging lokal rendah, justru harga sapi kita menjadi ikut anjlok. Sehingga diperbolehkan peternak menjual ke luar daerah. kalau tidak buka keran pengiriman, hancur harga di dalam daerah nanti,” ujarnya.

Setelah ditetapkannya kuota ini, pemerintah daerah memberikan keleluasan kepada peternak/kepada pengusaha untuk mengirim ternak-ternak dari NTB. Hanya saja, kepala dinas mengingatkan, jangan sampai kebablasan mengirim pada momen-momen tertentu saja. Misalnya pada saat lebaran Idul Fitri.

Peternak ataupun pengusaha ternak dari NTB berlomba-lomba mengirim dalam jumlah banyak ke Jabodetabek. Karena ekspektasinya cukup tinggi.

Misalnya harga sapi di daerah Rp7 juta/ekor, di sana harganya bisa mencapai Rp12 juta/ekor.

“Kejadian idul fitri kemarin bisa dijadikan pelajaran. Jangan berlomba-lomba mengirim ternak ke luar saat moment tertentu saja. Tau-taunya banyak yang tidak laku dan dibawa pulang. Malah merugi. Harus benar-benar diperhitungkan,” ujar Riadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.