BI NTB Sasar Pondok Pesantren Galakkan Ifratani

oleh -5 views
Program Ifratani tanam cabe
Program Ifratani tanam cabe dan sayuran dikembangkan di Ponpes Thohir Yasin Lombok Timur. (Panennews.com/Ist)

Panennews.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap melakukan kick off program infratani di Pondok Pesantren (Ponpes) Thohir Yasin, Lombok Timur, Senin (15/1/2024).

Program infratani berupa pengembangan cabai dan beberapa komoditas lainnya. ”Ini sebenarnya bagian dari pengembangan ekonomi pesantren, sekaligus mengendalikan inflasi,” tukasnya.

Untuk diketahui BI NTB memiliki program pengembangan ekonomi syariah. Departemen yang mengurusi ekonomi syariah ini melihat ponpes perlu mengembangkan usahanya agar bisa mandiri.

Selain itu, pihaknya menyadari program infratani di ponpes ini bisa dikaitkan dengan gerakan penurunan inflasi pangan.

Terlebih selama bertahun-tahun, inflasi pangan di NTB terbilang cukup tinggi. Pihaknya ingin mengendalikan inflasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :   BI Bali Sebut, Tekanan Inflasi Februari 2023 Melandai

Dikatakan, Pesantren memang dilihat memiliki banyak kemampuan, sehingga kita mencoba untuk mengembangkan bersama dengan pesantren untuk gerakan pengendalian inflasi pangan.

Di NTB, ada tiga Ponpes yang terpilih menjalankan program infratani ini. Di antaranya Ponpes Thohir Yasin Lombok Timur, Ponpes Nurul Hakim dan Ponpes Nurul Haramain Lombok Barat.

”Ini dalam rangka bagaimana bisa berkontribusi dalam pengendalian inflasi dan meningkatkan kemandirian,” ungkapnya.

Ponpes Thohir Yasin sendiri, sejak 2018 lalu telah membuat konsep pola tanam. Hal itu lantaran cabai merupakan salah satu instrument yang harganya sangat fluktuatif dan tidak bisa terukur. Hal itu yang kerap membuat terjasinya peningkatan pembiayaan operasional di dapur ponpes.

Baca Juga :   BI Memperkirakan Penjualan Eceran Bali Terus Meningkat

”Apalagi di pesantren kami ini dengan jumlah santri yang lumayan di atas 1.300 orang. Kebutuhan cabai di sini rata-rata satu kilogram per hari, bayangkan jika naiknya sampai Rp 100 ribu per kilogram, itu sangat mengganggu pembiayaan yang sudah diatur sebelumnya,” ungkapnya.

Ponpes Thohir Yasin memiliki konsep pembiayaan dapur yang diatur dalam satu periode. Dari pengalaman, pihaknya membaca minimal kenaikan harga itu terjadi dua kali dalam setahun.

Sebab itu, pihaknya menyiapkan perubahan konsep pembiayaan di awal, pertengahan, dan akhir tahun.

”Kita harapkan adanya greenhouse ini, Ponpes bisa mengatur pola tanam, dan kebutuhan di dalam pondok bisa terpenuhi,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.