Fenomena Hiu Tutul Di Perairan Jepara, Nelayan : Bawa Berkah

oleh -17 views
WhatsApp Image 2023-10-07 at 04.00.47
Nelayan Mengevakuasi Hiu Tutul Di Perairan Lemah Abang, Jepara (Panennews.com)

Panennews.com – Hiu tutul mulai berseliweran di perairan Lemah Abang, Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.

Nelayan meyakini, munculnya fenomena tersebut bakal membawa keberkahan dan keberuntungan.

Ketua Forum Nelayan (Fornel) Jepara, Sunarto mengatakan, hewan yang memiliki nama ilmiah Rhincodon typus memang biasa muncul di akhir musim Timuran yakni rentang awal bulan Oktober – akhir Desember.

“Memang banyak muncul itu mau perubahan musim Timuran ke Baratan. Biasanya terlihat di perairan dalam jarak 6 – 9 mil dari bibir pantai, atau di kedalaman antara 18 – 25 meter,” ujarnya, Sabtu (07/10/2023).

Kemunculan hewan yang oleh masyarakat setempat disebut cucut geger lintang ini, berdasarkan kearifan lokal akan mendatangkan keberkahan bagi nelayan.

Baca Juga :   Biota Laut Dugong Terdampar Di Pantai Mamuju Dalam Kondisi Mati

“Berdasarkan budaya tutur nenek moyang kami, begitu munculnya hiu tutul itu membawa berkah. Banyak hasil laut yang nanti ditangkap para nelayan,” jelasnya.

Sehingga berdasarkan local wisdom itu, nelayan di kabupaten berjuluk Kota Ukir pantang untuk menangkap hiu tutul.

“Kami tak berani menangkap. Kalau pun terjaring tidak sengaja, itu bisa membawa apes (nasib sial), apalagi sengaja menangkap,” terangnya.

Berdasarkan hal itu, keberadaan hiu tutul di perairan Lemah Abang setiap tahunnya tidak pernah terusik.

“Menurut kenalan saya, menjelang peralihan musim seperti ini banyak plankton di perairan ini, sehingga menarik hiu tutul,” sebutnya.

Sunarto mengungkapkan, belum lama ini nelayan Pantai Beringin, Kecamatan Keling, tak sengaja menjaring seekor hiu tutul di perairan Lemah Abang.

Baca Juga :   Jadi Solusi BBM Naik, Pemerintah Siapkan Program Solusi Solar Untuk Nelayan

“Itu tidak sengaja terjaring di 6 mil dari bibir pantai di kedalaman 18 meter. Ukurannya 6 meter dengan berat 2 ton,” terangnya.

Oleh nelayan, sesampainya di pinggir laut, hiu tutul itu akan dilepas dari jaring untuk kemudian dilepaskan ke tengah laut lagi.

“Ternyata siang itu kondisi bibir pantai sudah surut akibat pendangkalan. Karena tak bisa diseret ke laut, akhirnya hiu tutul itu mati,” imbuh Sunarto.

Ditambahkan, jasad hiu tutul tersebut sudah dievakuasi untuk kemudian dikebumikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Hiu tutul tidak jahat seperti hiu putih. Makanya nelayan kalau ketemu hiu tutul niatnya selalu diselamatkan,” pungkas Sunarto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.