Kemenaker Ungkap Gen Z Ogah Jadi Petani Bisa Berujung pada Krisis Pangan

oleh -11 views
Foto : Kementan
Foto : Kementan

Panennews.com – Sektor pertanian terus mengalami penurunan untuk diminati generasi muda sebagai bidang pekerjaannya. Deagrikulturisasi dalam distribusi pekerja lulusan universitas terjadi dan diikhawatirkan pada melemah produksi pangan.

Hal itu disampaikan Anwar Sanusi, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan RI dalam acara Sharing Session Keluarga Fisipol Gadjah Mada (Kafgama) 88 bertajuk “Post-Grad Transition: Persiapan Menghadapi Dunia Kerja”, yang disampaikan keterangannya oleh UGM, Selasa (26/9/2023).

Ia menyampaikan data Kemnaker menyatakan lulusan perkuliahan masih mendominasi lapangan pekerjaan di perkotaan.

“Artinya, mereka yang sebetulnya dari desa, dan diberikan kesempatan pendidikan ke kota, jarang kembali lagi ke desanya. Nah, kami berkomitmen untuk menjadikan desa ini sebagai pusat-pusat ekonomi, sehingga terjadi relasi antara desa dan perkotaan,” ujarnya.

Ia merinci, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, mayoritas lulusan universitas memilih bekerja di perkotaan. Angkanya mencapai 75,63 persen atau lebih dari tiga perempatan dari alumni perguruan tinggi.

Menurutnya, hal ini berdampak pada program pengembangan desa oleh pemerintah yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Baca Juga :   Presiden Sebut Harga Pangan Di Sumedang Stabil, Suplai Mencukupi

Dari angka tersebut, terutama jika dilihat segmentasi jenis pekerjaannya, 86,91 persen pekerja berpendidikan tinggi hanya tersebar di sektor formal tersier, seperti bidang perdagangan dan jasa.

Sedangkan sektor primer seperti pertanian yang justru menjadi tumpuan kesejahteraan masyarakat dari segi bahan pangan, menurut Anwar, terus mengalami penurunan.

Ia menyebutkan, terjadi de-agrikulturisasi dalam distribusi pekerja lulusan universitas. Jika terus dibiarkan, produksi pangan dikhawatirkan melemah dan berujung pada terjadinya krisis pangan. Padahal, lanjut dia, data tersebut secara agregat agak berbeda dengan seluruh data ketenagakerjaan.

“Mayoritas masyarakat banyak yang bekerja di sektor informal, terutama masyarakat pedesaan. Nah, mereka ini kelompok rentan karena tidak mendapat perlindungan dan hak-hak ketenagakerjaan. Tapi pengalaman ketika pandemi, sektor ini lebih bisa survive daripada sektor formal. Bahkan ketika sektor formal sedang tidak beroperasi,” ucap Anwar.

Baca Juga :   Jelang Idul Adha, Stok Beras dan Bahan Pokok di Jogja Aman

Padahal anak muda atau gen Z diharapkan dapat mengembangkan sektor-sektor usaha yang penting terutama di bidang pertanian tersebut.

“Mereka memiliki kemampuan digital knowledge yang luar biasa. Mereka juga memiliki literasi digital dan kemampuan bahasa asing yang lebih baik,” katanya.

Selain itu, sektor sekunder yang sebenarnya memiliki potensi besar, seperti industri pertanian, juga kurang diminati oleh lulusan perguruan tinggi. Anwar mencontohkan dinamika di bidang pertanian, yakni saat intervensi dan program pengembangan belum cukup untuk mengangkat potensi sektor pertanian desa.

Menurutnya, kondisi ini dinilai cukup berisiko dalam menghadapi bonus demografi penduduk di 2045, ketika 72 persen penduduk memasuki usia produktif.

“Kalau kita bisa mengelola dengan baik akan menjadi berkah. Kalau tidak, akan menjadi musibah. Kalau seandainya periode keemasan ini bisa kita lakukan dengan baik, maka ketika dependency ratio ini meningkat, kita memiliki akumulasi saving (pangan) yang cukup,” ujar Anwar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.