Mengenal Aroma Kopi Muria, Terkenal Sejak Masa Kolonial

oleh -56 views
Petani kopi di lereng Pegunungan Muria
Petani kopi di lereng Pegunungan Muria memanen kopi (Panennews.com/Ahmad Muharror)

Panennews.com – Lereng pegunungan Muria sejak dulu dikenal dengan kekayaan alamnya, satu dari sekian adalah perkebunan kopi dengan cita rasa istimewa.

Perkebunan tersebut tersebar di tiga kabupaten yakni Kudus, Pati, dan Jepara. Hasil alam ini, banyak diolah oleh masyarakat di Triangle of Muria untuk mengais rezeki, mulai dari petani, pengepul, hingga produsen kopi kemasan.

Satu dari sekian petani sekaligus produsen kopi kemasan skala UMKM adalah Umi Fadhilah warga Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

“Saya punya perkebunan sendiri, hasil panen diolah sendiri. Jenis kopinya robusta. Ide muncul buat kopi kemasan karena dari hasil panen kopi yang melimpah saat itu,” ujarnya, Kamis (24/8/2023).

Sejak 2021, Umi berwirausaha jualan kopi robusta. Ia menjualnya dalam bentuk bubuk kepada siapa saja yang menginginkan kopi khas olahannya. Menurutnya, Kopi Muria memiliki rasa khas dengan kekentalan dan kandungan kafein yang tinggi, sehingga menantang untuk para pecinta kopi.

“Rasanya berbeda, kekentalan dan kafeinnya tinggi sehingga memberikan kesan tekstur tebal saat diminum. Cremanya tahan lama sehingga ketika diseduh akan menampilkan keindahan visual,” jelasnya.

Baca Juga :   Di Tengah Pandemi KKP Lepas Ekspor 19 Ribu Ton Ikan ke 44 Negara

Selain itu, ia menyampaikan proses pengolahan kopi melibatkan sejumlah tahap untuk mengubah kopi segar menjadi biji kopi. Dirinya menggunakan metode dry process yang meliputi, pemetikan biji kopi pilihan, penjemuran, pengupasan kulit dan pembersihan, penggilingan dari biji kering menjadi green bean, grading, roasting, penggilingan kopi, dan pengemasan dengan wadah pouch yang terbuat dari alumunium foil.

“Beberapa tahapan pengolahan kopi kami menggunakan metode kering atau dry processing. Proses pengolahan membutuhkan waktu tiga sampai empat jam. Dari awal kopi dipetik hingga proses pengemasan sudah tertata alurnya dengan metode yang tepat,” ungkapnya.

Dalam satu bulan, ia mampu memproduksi 25 kilogram kopi. Kopi dengan merek Kopi Muria Almahyra tersebut ia pasarkan melalui berbagai cara, di antaranya media sosial, kegiatan event bazar dan gerai toko.

Industri rumahan yang ia kelola sudah mengantongi Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sehingga produknya memiliki kualitas yang unggul dan jaminan pangan tingkat risiko rendah. Di samping itu, Kopi Muria Almahyra juga telah mengantongi Sertifikat Halal.

Baca Juga :   Kabupaten Bogor, Jadi Tuan Rumah Gertam Cabai Serentak Di Indonesia

“Sudah ada PIRT dan label halal sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat. Biasanya kami menjualnya lewat Instagram @kopimuriaalmahyra serta ke bazar maupun gerai-gerai,” ungkap Umi.

Kopi Muria memiliki keunggulan di antaranya varietas kopi berkualitas, metode pemetikan dan pemrosesan selektif, pemanggangan terkontrol, serta harga terjangkau. Harga kopi mulai dari Rp11.000 per 100 gram, Rp22.000 per 200 gram, Rp50.000 per 500 gram, dan Rp100.000 per kilogram.

Selain menjual kopi, dirinya juga menjual jahe instan yang dibudidaya di lereng Gunung Muria. Umi memandang berbisnis kopi tidak mudah, mengingat harganya fluktuatif. Selain itu, hanya pecinta kopi murni yang benar-benar melirik produk olahan kopi seperti miliknya.

Oleh sebab itu, ia berharap agar harga kopi bisa stabil dan kopi olahannya mampu tembus ke pasar nasional dan internasional.

“Harga kopi sekarang sudah mulai tinggi, sehingga kasihan yang beli. Kemudian minat kopi olahan seperti ini biasanya hanya dikenal oleh penikmat kopi murni. Apalagi di daerah saya masih banyak warga yang mengonsumsi kopi campur beras,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.