Manisnya Industri Kakao, Indonesia Jadi Pemasok Rantai Global

oleh -12 views
Ilustrasi Kakao
Foto : Pixabay

Panennews.com – Kementerian Perindustrian fokus untuk terus menjalankan kebijakan nasional hilirisasi industri pengolahan kakao di dalam negeri guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Adapun pengembangan hilirisasi industri pengolahan kakao diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat, lemak cokelat, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen dan pangan fungsional berbasis kakao.

Apalagi, potensi Indonesia saat ini merupakan negara pengolah kakao ketiga terbesar di dunia yang memproduksi bebagai produk kakao olahan seperti cocoa pasta/liquor, cocoa cake, cocoa butter dan cocoa powder.

Sebagian produk tersebut diolah lebih lanjut di dalam negeri sekitar 20%, dan selebihnya diekspor ke lebih dari 96 negara di lima benua.

“Ekspor produk intermediate tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok rantai global dengan kontribusi sekitar 9,17% dari kebutuhan dunia,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Jakarta, Kamis (24/08/2023).

Baca Juga :   Geliat Bawal Sakti Jadi Primadona Komoditas Budidaya Laut Saat Pandemi Covid-19 di Kepulauan Riau

Menurut Dirjen Industri Agro, peningkatan nilai ekspor kakao olahan didukung oleh sejumlah investasi perusahaan multinasional.

“Hal ini merupakan dampak dari kebijakan bea keluar terhadap ekspor biji kakao melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67 Tahun 2010,” terangnya.

Selain itu, ekspor biji kakao pada tahun 2013 juga sebesar 188.420 ton atau senilai USD446 juta, turun menjadi 24.603 ton, senilai USD64 juta pada 2022.

Sebaliknya, volume ekspor produk olahan kakao meningkat dari 196.333 ton senilai USD654 juta pada tahun 2013 menjadi 327.091 ton senilai USD1,1 miliar tahun 2022.

Baca Juga :   Mengenal Lebih Jauh Teknik Proses Roasting Pada Kopi

“Sejak tahun 2015, ekspor kakao olahan kita selalu di atas USD1 miliar. Bahkan, Indonesia sudah menjadi pemain global kakao olahan, dengan posisi ekspor cocoa butter kita nomor dua di dunia setelah Belanda,” ungkap Putu.

Lebih lanjut, Putu menyampaikan, lima tahun lalu komposisi ekspor kakao olahan antara sebesar 85%, dan 15% diproses lebih lanjut di dalam negeri menjadi produk akhir berupa makanan dan minuman berbasis cokelat.

“Saat ini, komposisi produksi olahan cokelat di dalam negeri telah meningkat menjadi 20%. Artinya produk kakao olahan di dalam negeri mengalami penguatan atau terjadi hilirisasi lebih lanjut,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.