Tanam Kedelai Di Lampung, Pemerintah Sediakan Bibit Unggul Untuk Petani

oleh -27 views
qFXb1MKAvG01ukNf6tK3AMgmNUnTpP2bAqsetUI4
Foto : Biro Humas Kemendag

Panennews.com – Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengungkapkan, kerja sama, kolaborasi, dan keberpihakan kepada petani menjadi kunci dalam memajukan petani Indonesia.

Untuk itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, serta Pemerintah Daerah bersinergi dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal ini diungkap Mendag Zulkifli Hasan saat menghadiri “Gerakan Tanam Bersama Kedelai” di Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Jumat, (02/06/2023).

Turut hadir pada acara ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Bupati Tanggamus Dewi Handajani, Ketua Komisi IV DPR RI Sudin, serta Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria.

“Tidak boleh separuh-separuh untuk kepentingan petani. Oleh karena itu, harus ada kerja sama dari semua instansi terkait. Ini baru permulaan. Kita harap 5-6 tahun mendatang akan terjadi perubahan kalau kita bareng-bareng,” ujar Mendag Zulkifli Hasan.

Baca Juga :   Panen Raya Padi, NTB Belum Masuk Beras Impor

Menurut Mendag Zulkifli Hasan, petani Indonesia rajin dan pekerja keras. Untuk itu, pemerintah akan merumuskan agar kedelai petani dapat dibeli dengan harga yang menguntungkan.

Selain itu, Pemerintah juga akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk menyediakan bibit kedelai unggul agar hasilnya banyak.

“Petani jangan mikir lagi, tanam bibitnya bagus, dibeli dengan harga bagus, baru bisa berhasil,” lanjut Mendag Zulkifli Hasan.

Sementara itu, Menteri Syahrul mengungkapkan, pemerintah pusat dan daerah secara bertahap menggairahkan pertanian kedelai di Indonesia. Ini untuk mengurangi ketergantungan kedelai impor.

Baca Juga :   Ditunjuk sebagai Perwakilan Asia, FAO Apresiasi Sektor Pertanian Indonesia

“Pemerintah bersama Komisi IV dan Gubernur Lampung harus menjadi bagian dari energi negara ini untuk kepentingan kedelai kedelai kita,” tandas Menteri Syahrul.

Lebih lanjut, Arinal menambahkan, tempe dan tahu merupakan kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi bahan bakunya, kedelai, sebagian besar masih impor. Provinsi Lampung hanya bisa menyiapkan 5.000 ton dari kebutuhan Indonesia per tahun.

“Oleh karena itu, Lampung sebagai lokomotif pertanian Indonesia menginisiasi komoditas kedelai bisa menjadi salah satu unit percontohan. Ini kita memulai agar tidak bergantung impor,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.