Kerusakan Hutan, Produksi Madu Sumbawa Menurun Drastis

oleh -13 views
Madu
Foto : Pixabay

Panennews.com – Produksi madu liar dari Sumbawa yang dikenal dulunya sebagai penghasil madu terbanyak, kini kondisinya makin kritis. Penyebabnya ditengarai banyaknya terjadi kerusakan hutan.

“Dalam beberapa tahun terakhir produksi madu alam Sumbawa mengalami penurunan drastis dan terjadi secara terus menerus. Penurunan produksi ini tidak lepas dari imbas makin rusaknya hutan serta perubahan iklim,” ujar Ketua Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) NTB, Rakib.

Dalam catatannya, produsi madu alam pada tahun 2015 bisa mencapai puluhan ton dalam setahun, khusus dari hutan di Kabupaten Sumbawa.

Tidak terhitung yang produksi madu alam dari hutan di daerah-daerah lainnya di Provinsi NTB. Jika dihitung dengan rupiah, harga madu Rp250 ribu per-liter atau setara dengan Rp250 juta per-ton.

Baca Juga :   Kemenkop UKM Dorong Usaha Mikro Di Kabupaten Kuningan Ke Digital

Namun saat ini, kata Rakib, produksi madu alam Sumbawa berkisar antara 1-2 ton setahun.

“Dulu perputaran uang dari hasil penjualan madu tinggi, sekarang semakin berkurang,” katanya.

JMHS beranggotakan seribuan orang petani madu. Karena semakin minimnya produksi madu alam, banyak yang beralih menjadi petani komoditas pertanian tanaman pangan.

Melalui jaringan anggota ini, madu-madu hasil buruan di hutan dikumpulkan dan dijual.

Seperti diketahui, madu Sumbawa memperoleh sertifikat indikasi geografis dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Dengan demikian, madu Sumbawa sudah dilindungi oleh undang undang.

Baca Juga :   Peran Jakarta Sebagai Showcase Produk UMKM, Menkop Teten : Pengembangan Produk UMKM Tetap Diperkuat

Madu Sumbawa tersebut memiliki ciri khas yang hanya ada di daerah ini seperti kandungan airnya kurang dari 20%.

Dengan adanya perlindungan HAKI itu, berarti memberikan perlindungan juga kepada konsumen, sehingga konsumen bisa mendapatkan barang asli dan berkualitas serta terhindar dari barang palsu.

“Sayang sekali, kita sudah mendapat sertifikat IG, tapi produksi madu kita makin mengkhawatirkan,” katanya.

Karena itu, diharapkan langkah serius terus menerus untuk menjaga kelestarian hutan. Dan harus dilakukan oleh semua pihak.

Di JMHS sendiri, tambah Rakib, anggotanya diedukasi untuk turut melakukan pelestarian, serta memanen madu secara baik dan benar agar populasi lebah madu alam tidak semakin berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.