Mengenal Sosok ‘Pahlawan’ Pertanian Milenial Dari Magelang

oleh -835 views
Agus Wibowo
Agus Wibowo (26) di lahan pertanian kentang miliknya. - Foto : IG/agus_wibowo15

Panennews.com – Makna pahlawan di era sekarang mungkin saja dapat didefinisikan sebagai seseorang yang berjuang pada bidang dan keahlian tententu untuk kemaslahatan banyak orang. Jika hal yang demikian, maka seorang petani dapat dikatakan sebagai ‘pahlawan’ pangan. Salah satunya yaitu sosok petani kentang milenial asal Magelang, Agus Wibowo (26).

Agus, begitu sapaan akrabnya, merupakan pemuda lulusan sarjana Agro Teknologi Universitas Sebelas Maret (UNS). Bapak satu anak ini kini tengah fokus mengembangkan budidaya kentang yang berada di areal lahannya di Desa Kragon, Sumberrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ayah dan keluarganya memang seorang petani di desanya, tetapi Agus tak hanya puas dengan pertanian konvensional yang diturunkan dari keluarganya. Suami dari Linda Dian Angraini ini mulai fokus pada budidaya kentang sejak tahun 2016 dengan teknik dan teknologi yang modern.

“Sebenarnya orang tua menginginkan saya jadi dokter, tetapi malah saya berputarbalik jadi petani. Karena saya melihat potensi dari petanian sangat bagus, jika tidak ada yang kelola, maka tidak akan pernah maju” terangnya saat diwawancarai Panen News beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya ketertarikan Agus pada dunia pertanian dimulai sejak lulus sekolah SMA. Maka dalam jenjang pendidikan pasca SMA, Agus masuk ke Agro Teknologi Pertanian di UNS. Dalam kajian skripsinya pun, ia memutuskan untuk meneliti beberapa penyakit yang ada pada tanaman kentang.

Pria asal Magelang ini tertarik pada komoditi kentang karena keistimewaanya. Menurutnya kentang merupkan makanan pengganti alternatif dari nasi yang digemari oleh banyak orang.

Baca Juga :   BPS Sebut NTP Hortikultura Di 22 Provinsi Mengalami Kenaikan

“Saya memilih menanam kentang karena eksklusif. Selain itu, harganya pun lumayan stabil karena yang tidak banyak petani yang memproduksi” akunya.

Selain kentang, sebagai tanaman sela yang ia tanam juga beragam. Mulai dari cabe, kubis, maupun tomat. Sirkulasi penanaman yang berbeda-beda jenis tanaman tersebut merupakan solusi terbaik agar lingkungan dan tanah tidak mudah rusak.

“Saya tidak merekomendasikan pada petani untuk menanam kentang secara terus menerus dalam satu lahan. Karena secara produktivitas akan menurun, secara aspek lingkungannya juga nanti akan merusak unsur hara tanah. Tanaman kentang juga membutuhkan jenis bahan kimia yang tidak sedikit, jadi kalau kentang terus yang ditanam, lama kelamaan tanahnya bisa rusak” jelas Agus.

Kini, Agus mengolah budidaya tanaman kentang di lahan pertanian miliknya lebih kurang seluas 4 hektare. Adapun luas lahan pertanian dengan para mitra petani lainnya dapat mencapai seluas 30 hektare. Dalam menggarap lahan kentangnya tersebut, Agus dibantu oleh 10 orang sebagai pekerja tetap, dan sekitar 20 – 30 petani yang membantunya sebagai pekerja musiman.

Selain itu, Agus menjelaskan bahwa ada beberapa varietas kentang yang ditanam di lahan tersebut diantaranya granola, atlantis, vega, maupun kentang hitam.

Untuk masa panennya tanaman kentang biasanya membutuhkan waktu sekitar 90 – 100 hari. Dalam sekali panen produksi kentang dalam satu hektare miliknya mencapai sekitar 25 ton. Untuk modalnya sendiri, dalam satu hektare, Agus menjelaskan sampai dengan 100 juta rupiah.

Agus menambahkan bahwa jika harga stabil, dalam sekali panen biasanya ia dapat meraup omzet sampai dengan 200 jutaan. Selain itu, omzet lainnya juga bisa didapat dari beberapa penjualan bibit kentang. Bibit kentang yang ia budidayakan menurutnya sudah tersertivikasi di Kementerian Pertanian. Maka tak heran jika dari tahun lalu pertaniannya pernah di gandeng oleh perusahaan besar produk cemilan kentang nasional.

Baca Juga :   DPD RI Kerja Sama Dengan Kementan, Bangun Sektor Pertanian

Pembinaan Anak Muda dan Pemenang Lomba

Selain aktif dalam budidaya kentang, Agus sendiri membina beberapa anak muda di wilayahnya yang tergabung dalam Komunitas P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya), sebuah program dari Kementerian Pertanian yang menumbuhkan pelatihan pertanian non formal.

“Di kecamatan saya ada sekitar 100 anak-anak muda, mereka adalah pemilik lahan pertanian. Kita mengumpulkan anak-anak milenial yang terjun di dunia pertanian dan di sini merupakan sebuah wadah komunikasi untuk bertukar pikiran khususnya di kentang, mulai dari pembibitan sampai dengan pemasarannya” papar Agus.

Selain itu, Agus juga pernah memenangi sebuah ajang kompetisi kewirausahaan yang diselenggarakan oleh salah satu bank nasional. Pada kompetisi binis tingkat nasional ini akhirnya Agus mewakili Indonesia di ajang Forum Global Student Entrepremeur untuk wilayah Asia Pasifik di Singapura dan perwakilan untuk tingkat dunia yang diselenggarakan di Tingkok.

Dengan melihat peluang bisnis pertanian yang sangat prospektif dan profitable inilah, Agus menyerukan untuk anak-anak muda agar tidak takut, malu, dan harus berani mencoba dalam dunia pertanian.

“Saya bangga dan tidak malu dengan identitas saya sebagai petani. Petani itu pahlawan pangan dan pekerjaan yang mulia” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.