Hutan Produktif, Aman, dan Lestari di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

oleh -11 views
Dok. KLHK
Dok. KLHK

Panennews.com – Hutan tropis Indonesia merupakan modal pembangunan nasional yang memiliki manfaat nyata bagi kehidupan bangsa. Hutan memberikan manfaat ekonomi, ekologi, dan lingkungan, serta sosial budaya, terutama saat ini dalam era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kekayaan hutan Indonesia yang memiliki multifungsi ini, harus terus dijaga agar terus lestari.

“Di era Adaptasi Kebiasaan Baru ini, COVID-19 menjadi pemicu (trigger) untuk terus meningkatkan efisiensi dan awareness raising serta mencari solusi inovatif, selain pemantapan kawasan, stabilitas, dan optimalisasi fungsi ekosistem hutan, yang memungkinkan upaya pengelolaan kehutanan yang terus lestari,” ujar Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK Agus Justianto, saat membuka kegiatan Teras Inovasi: Bincang Seru Profesor dengan tema ”Mampukah Hutan Kita Lebih Produktif, Aman dan Terus Lestari di Era Adaptasi Kebiasaan Baru?”, yang berlangsung virtual, Rabu (22/7).

Agar hutan lestari, Agus menegaskan kuncinya pada pengelolaan hutan, yaitu penerapan metode bisnis, asas-asas teknik kehutanan, dan menjaga kelestarian sumber daya hutan itu sendiri. Asas dasar dalam pengelolaan hutan ialah hasilnya lestari dan berkelanjutan (Sustainable yield principle).

Baca Juga :   APHI Dukung Pemerintah Tingkatkan Industri Perhutanan

Pengelolaan hutan di Indonesia didasarkan atas asas manfaat yang berkelanjutan, yang berupa manfaat langsung misalnya kayu, rotan, obat-obatan dan hasil hutan lainnya dan manfaat tidak langsung seperti pengendali tata air, mikroklimat, jasa rekreasi dan lain-lain.

“Oleh karena itu, dalam pengelolaan hutan diperlukan upaya pembalikan ke arah pemulihan hutan terus lestari,” tegasnya.

Agus menyampaikan perlu perubahan paradigma dari pengelolaan hutan berbasis komoditas ke berbasis ekosistem dengan optimalisasi multi produk untuk mengubah pendekatan tersebut. Pengelolaan hutan harus tepat, efektif dan efisien agar kelestarian dapat tercapai, dan memastikan bahwa semua elemen masyarakat dan para pihak mendapat manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan dari hutan dengan senantiasa menjaga kelestarian sumber daya yang ada di dalamnya.

“Hal yang perlu kita garis bawahi saat ini adalah, nilai ekonomi dari hutan terletak tidak hanya pada sebatas tegakannya saja sebagai penghasil kayu yang menggerakan perindustrian, tetapi nilai hutan terbesar justru terletak pada manfaat lainnya, dimana hutan dapat berfungsi sebagai mega factory sumber bahan baku obat, kosmetik, pangan premium, getah, resin, potensi sumber daya genetik lainnya dan bahkan nilai-nilai jasa lingkungan,” ungkapnya.

Baca Juga :   Demi Kelestarian Lingkungan Perhutanan, Pemerintah Jalin Kerjasama Program Perhutanan Sosial

Lebih lanjut, Agus mengatakan pandemi COVID-19 berpotensi memicu efek yang signifikan pada keanekaragaman hayati, dan berbagai capaian upaya konservasi yang telah dilakukan. Oleh karenanya, diperlukan upaya-upaya penyelamatan keanekaragaman hayati demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan manusia.

“Upaya mendukung penyelamatan keanekaragaman hayati hutan tropis Indonesia merupakan tulang punggung kegiatan yang dilakukan Badan Litbang dan Inovasi, khususnya sebagai contoh agar pembangunan hutan meranti dalam satu bentang lansekap utuh, eksplorasi sumber daya genetik pohon hutan dari berbagai wilayah, dan keberadaan persemaian konservasi, merupakan salah satu contoh kontribusi dalam mewujudkan pengeloaan sumber daya hutan berkelanjutan,” kata Agus. [*]

Komentar