Intip Yuk Alat Navigasi Canggih AIS Yang Wajib Dipasang Pada Kapal

oleh -247 views
Prototipe AIS
Prototipe Automatic Identification System (AIS) di KKP - Foto : Dok. KKP

Panennews.com – Dunia bahari dan perkapalan terus meningkatkan teknologi untuk berbagai keperluan. Salah satu yang ada sekarang ini yaitu dengan peningkatan sistem navigasi untuk melacak keberadaan sebuah kapal.

Adalah Automatic Identification System (AIS) yaitu sebuah alat canggih sistem identifikasi otomatis pada kapal yang wajib dipasang jika berlayar di perairan Indonesia. Peraturan kewajiban pemasangan dan pengaktifan alat ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis Bagi Kapal yang Berlayar di Wilayah Perairan Indonesia.

Apa Itu AIS

Melansir dari laman Dephub.go.id, AIS adalah sistem pemancar radio Very High Frequency (VHF) yang menyampaikan data-data melalui VHF Data Link (VDL) untuk mengirim dan menerima informasi secara otomatis ke kapal lain, stasiun Vessel Traffic Services (VTS) dan SROP (Stasiun Radio Pantai).

Peraturan dalam ranah frekuensinya sendiri sudah di atur oleh International Maritime Organization (IMO) yaitu pada rentang 161,975 MHz dan 162,025 MHz. Adapun jangkauan transmisinya jika tanpa penghalang antena pemancar dan penerima, dapat mencapai sekitar 35 mil.

Baca Juga :   KKP Catat Produksi Garam Nasional Capai 2,5 Juta Ton

Minimal ada 2 jenis AIS yang ada saat ini, yaitu Klas A dan B. Pada prinsipnya kinerja kedua klas tersebut tidak jauh berbeda. Akan tetapi beberapa fitur spesifikasi teknisnyalah yang membedakan, diantaranya jangkauang, ragam informasi, dan harganya.

Ditjen Perhubungan Laut RI menjelaskan bahwa AIS Klas A wajib dipasang dan diaktifkan pada kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan Konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) yang berlayar di wilayah perairan Indonesia.

Sementara AIS Klas B wajib dipasang dan diaktifkan pada kapal berbendera Indonesia yang meliputi kapal penumpang dan kapal barang non konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35, kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain di bidang kepabeanan serta kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60.

Baca Juga :   Seratusan Hiu di Karimunjawa Mati Mendadak, Diduga Diracun?

Fungsi AIS

Penerapan kewajiban pemasangan dan pengaktifan AIS tersebut bukan tanpa maksud. Ada beberapa alasan mengapa AIS wajib dipasang antara lain untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pelayaran.

Disamping itu juga dengan adanya AIS juga akan mempermudah tindakan-tindakan ilegal di lautan. Hal lainnya juga untuk mempermudah tindakan darurat dan pertolongan SAR.

Dalam hal monitoring, AIS juga cukup membantu dalam memantai pergerakan kapal di laut maupun di pelabuhan. Sehingga akan lebih teratur dalam pengawasan.

Sementara itu jika peraturan ini dilanggar, Ditjen Perhubungan Laut akan memberikan sanksi administratif berupa penangguhan pemberian Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sampai dengan terpasang dan aktifnya AIS di atas kapal.

Dan jika ada nakhoda yang selama pelayaran tidak mengaktifkan AIS dan tidak memberikan informasi yang benar, maka dikenai sanksi administratif berupa pencabutan sertifikat pengukuhan Certificate of Endorsement (COE).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.