Ternyata Semut Bisa Hasilkan Untung yang Menjanjikan

oleh -367 views
Ilustrasi Kroto
Ilustrasi Kroto - Foto : Freepik

Panennews.com – Saat orang lain mengeluh terhadap keberadaan semut rangrang atau semut merah yang menyerang tanamannya, namun justru dapat menghasilkan rezeki dari hewan kecil ini atau sering di sebut “si merah”.

Semut rangrang biasa tinggal di alam. Mereka senang membuat sarang pada pepohonan. Semut rangrang atau Oecophylla smaragdina menghasilkan kroto yang terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena kroto populer sebagai umpan ikan, dan makanan tambahan untuk meningkatkan kicauan burung. Di pasaran, daya jual beli kroto dinilai besar dan lumayan mahal. Pangsa pasarnya juga mudah dicari. Setiap harinya kroto bisa laris manis di toko pakan burung. Itulah yang mendasari peluang usaha dari budidaya semut kroto.

Para penggemar burung memberi kroto yang kaya protein dan vitamin untuk burung peliharaannya, demi kepuasan mereka mendengarkan kicauan burung yang merdu, atau untuk menyiapkan burung mengikuti lomba burung pedendang.

Ulfa wanita kelahiran Pati tahun 1988 ini melihat peluang kroto akan menjadi komoditi yang menjanjikan. Pasalnya dengan meningkatnya bisnis ikan hias dan bisnis burung tentunya kebutuhan kroto akan meningkat. Apalagi persediaan semut rangrang penghasil kroto di alam bebas semakin terbatas.

Banyaknya kebutuhan kroto di pasaran yang meningkat membuat pencari kroto di alam bebas semakin kesulitan. Bahkan di daerah Jawa Tengah sudah ada aturan dari Pemda setempat dilarang untuk mencari kroto di alam bebas. Maka dengan ternak kroto di dalam media toples ini memberikan cara yang mudah dengan hasil yang menggiurkan. Selain itu pelaku usaha ini masih tergolong minim, yang akan membuat usaha ini semakin cerah ke depannya.

Kroto yang dijual Ulfa berupa larva seharga Rp 10-15 ribu/ons dan Rp 135-150 ribu/kg. Harga tersebut untuk pasar daerah Jawa Timur,  sedangkan di luar Jatim harga bisa naik sekitar 10%. Kelebihan kroto yang dibudidaya Ulfa mempunyai hasil kroto yang berkualitas dengan ciri kroto tidak menggumpal, berbutir bersih seperti beras dan kadar air sedikit sehingga sangat bagus untuk pakan burung. Disinggung soal kapasitas penjualannya, Ulfa mengaku mampu menjual kroto sampai 100 kg per bulan, dan tak jarang hampir kewalahan memenuhi permintaan.

Cara mengatasinya ia bermitra dengan 10 peternak semut rangrang (bibit penghasil kroto) yang tersebar di wilayah Jatim dan Jateng, dengan pelanggan sampai ke Kalimantan, Sumatera, dan Bali.

Dengan kapasitas penjualan kroto per bulan sebanyak 100 kg seharga Rp 135 ribu-Rp 150 ribu/kg dan 100-150 toples bibit kroto seharga Rp 75-165 ribu per toples ukuran 1 atau 5 liter, maka Ulfa bisa meraih omset hingga Rp 25,5 juta per bulan dengan keuntungan sekitar 66% atau sekitar Rp 17 juta per bulan.